1 DEKADE PEMERINTAHAN JOKOWI, EKONOMI RI TUMBUH POSITIF HINGGA JULI 2024 CAPAI RP1,545 TRILIUN
1 DEKADE PEMERINTAHAN JOKOWI, EKONOMI
RI TUMBUH POSITIF HINGGA JULI 2024 CAPAI RP1,545 TRILIUN
Satu dekade kepemimpinan Jokowi yang sangat
membanggakan Masyarakat. Di era Jokowi, ekonomi RI tumbuh positif. Menteri
Keuangan sudah laporkan total penerimaan negara hingga Juli 2024 capai Rp1.545
Triliun.
Menkeu menjelaskan bahwa tren positif itu
berasal dari penerimaan PPN dan PPnBM yang mengalami pertumbuhan sebesar 7,34
persen secara bruto atau setara Rp 402,16 triliun, serta PBB dan pajak lainnya
yang tumbuh sebesar 4,14 persen atau mencapai Rp 10,07 triliun. Meski demikian,
terdapat juga penerimaan pajak yang mengalami kontraksi seperti PPH Non Migas
dan PPH migas akibat pelemahan harga komoditas dan penurunan lifting minyak
bumi.
“Ekonomi tumbuh meskipun ada beberapa
institusi yang menyebabkan penerimaan netonya mengalami penurunan. Namun, dari
sisi bruto pertumbuhannya cukup baik,” ungkap Menkeu dalam konferensi APBN Kita
yang diselenggarakan secara hybrid, di Jakarta, Selasa (13/08).
Berdasarkan jenis pajaknya, Menkeu melaporkan
mayoritas tumbuh positif seiring dengan aktivitas ekonomi yang terjaga. PPh 21
tumbuh positif yaitu sebesar 26,6 persen, PPh 22 impor tumbuh 5,6 persen, PPN
impor tumbuh 4,5 persen, dan diikuti dengan pertumbuhan dari PPh OP, PPH 26,
PPH final dan PPN DN. Dimana pertumbuhan ini menunjukkan kegiatan ekonomi yang
terus bergerak.
Selain penerimaan pajak, Menkeu juga
menyampaikan penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai yang mencapai Rp
154,4 triliun atau setara 48,1 dari total target APBN 2024. Meski begitu,
penerimaan bea dan cukai menunjukkan perkembangan yang bervariasi. Menkeu
menyebut, bea masuk tumbuh positif sebesar 2,1 persen atau Rp 29,0 triliun
dikarenakan nilai impor yang meningkat. Penerimaan bea keluar juga mengalami
pertumbuhan tinggi sebesar Rp9,3 triliun atau tumbuh 58,1 persen secara year on
year (yoy).
“Kontribusi terbesar berasal dari tembaga yang
tumbuh 928 persen. Namun, untuk sawit, penerimaan masih menurun 60 persen
karena harga CPO (Crude Palm Oil) turun 5,9 persen year on year dari US$865
menjadi US$814 per ton, dan volume ekspor turun 15,48 persen dari 24,01 juta
ton menjadi 20,29 juta ton,” ungkap Menkeu.

Komentar
Posting Komentar