Pengamat Nilai Iuran Tapera Memudahkan Pekerja Mendapatkan Rumah
Pengamat Nilai Iuran Tapera
Memudahkan Pekerja Mendapatkan Rumah
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI)
Fithra Faisal mengatakan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang
Perubahan Atas PP Nomor 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan
Perumahan Rakyat (Tapera) menjadi solusi persoalan masyarakat yang tidak punya
rumah.
Tapera, lanjut dia, akan menjadi solusi atas
permasalahan gap antara masyarakat yang tidak memiliki hunian tetap karena
miliki pemasukan atau pendapatan yang terbatas.
"Sehingga akan sedikit memaksa mereka ya
dengan sistem iuran untuk memudahkan mereka mendapatkan rumah. Ya karena pada
akhirnya juga iuran ini juga subsidi silang ya bentuknya," ujar Fithra.
Dari sisi positif, lanjutnya, aturan yang
ditetapkan pada 20 Mei 2024 ini, dinilai mampu menghasilkan efek dampak ganda
bagi ekonomi yang meliputi penciptaan lapangan kerja, penggunaan input produksi
sehingga bermuara pada sumbangan pertumbuhan ekonomi juga.
"Baik ke belakang maupun keterlibatannya
akan menyumbangkan pertumbuhan ekonomi juga pada akhirnya," ujarnya pula.
Namun demikian, Tapera juga memiliki sisi
negatif yakni dalam jangka pendek akan menambah biaya produksi bagi para pelaku
usaha.
Secara langsung, pengusaha berkontribusi
terhadap iuran sebesar 0,5 persen per bulan.
Sementara dampak tidak langsung, para pekerja
yang dikenai kewajiban iuran 2,5 persen akan melakukan negosiasi kenaikan gaji
kepada pemberi kerja sebagai proses penyampaian aspirasi.
"Dalam proses negosiasi mereka untuk
income mereka di masa depan yang pada akhirnya iuran 2,5 persen ini secara
tidak langsung terserap oleh pengusaha yang pada akhirnya menjadi biaya juga
buat mereka," jelasnya.
Ia pun menegaskan, secara aturan memang
dibebankan pada pekerja, namun pada praktiknya bisa saja semua secara tidak
langsung akan ditanggung pengusaha lewat efek kenaikan gaji jangka panjang.
Hal itu pun dikhawatirkan menjadi biaya yang
bisa mendorong terjadinya inflasi yang disebabkan dorongan biaya (cost push
inflation) yang mampu memicu pengusaha mengurangi produksi.
"Bahkan implikasi jangka panjang itu ya
mungkin pemberhentian karyawan/lay off. Ya kita bicara di jangka panjang juga
efeknya," jelasnya.

Komentar
Posting Komentar