PUPR Gunakan Aplikasi RUTENA INA RISK Tangani Bencana Gempa di Pulau Bawean
PUPR Gunakan Aplikasi RUTENA INA RISK
Tangani Bencana Gempa di Pulau Bawean
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (PUPR) menggunakan aplikasi RUTENA INA RISK, untuk mengidentifikasi
serta pendataan kerusakan rumah masyarakat dalam upaya mempercepat penanganan
hunian pascabencana gempa bumi yang terjadi di Kepulauan Bawean.
Dalam penerapannya, PUPR akan berkoordinasi
dengan pemerintah setempat dan beberapa pihak seperti Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk identifikasi kerusakan pascabencana.
"Kami (Kementerian PUPR-red) akan segera
melaksanakan koordinasi dengan sejumlah pihak agar penanganan pasca bencana
gempa di Pulau Bawean. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mendata
kerusakan rumah yang ada dilanjutkan verifikasi melalui aplikasi RUTENA INA
RISK. Aplikasi tersebut merupakan aplikasi yg dikembangkan Ditjen Perumahan
Kementerian PUPR dan telah digunakan oleh BNPB untuk identifikasi kerusakan
pasca bencana," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Perumahan Kementerian PUPR
Iwan Suprijanto saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gresik, Jawa Timur
pada Sabtu (6/4/2024).
Berdasarkan data yang ada, pada hari Jumat, 22
Maret 2024 terjadi gempa bumi di Kepulauan Bawean, Kabupaten Gresik. Gempa
pertama terjadi pukul 11.44 WIB dengan kekuatan 6.0 Skala Richter (SR), gempa
kedua pukul 12.20 WIB dengan kekuatan 5.7 skala richter dan ketiga terjadi
pukul 15.52 dengan kekuatan 6.5 skala richter.
Dari hasil pendataan sementara yang dilakukan
pemerintah daerah setempat per tanggal 26 Maret 2024 lalu tercatat sekitar
6.460 unit rumah mengalami kerusakan. Adapun rinciannya adalah sebanyak 6.164
rumah mengalami rusak ringan, 229 rumah rusak sedang dan 67 rumah rusak berat.
Kementerian PUPR berkoordinasi dengan Bupati
Gresik Fandi Akhmad Fani serta sejumlah jajaran Forkopimda di Pendopo Pemkab
Gresik dan beberapa perguruan tinggi dalam pendampingan perbaikan rumah.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka koordinasi sekaligus diskusi
terkait proses pendataan dan pembangunan masyarakat yang terdampak gempa di
Pulau Bawean.
Dirjen PUPR Iwan itu menyatakan bahwa dalam
penanganan bencana di Kepulauan Bawean dapat mencontoh penanganan bencana di
Gunung Semeru yang mana pemerintah daerah setempat perlu berkolaborasi dengan
sejumlah perusahaan dan perguruan tinggi guna pendampingan pembangunan rumah
yang mengalami kerusakan baik rusak ringan, sedang dan berat.
"Kami berharap Pemkab Gresik dapat
menginisiasi kolaborasi dengan perusahaan serta civitas akademika untuk
mengatasi gempa di Kepulauan Bawean. Selain itu juga membuat master plan dan
menyusun skala prioritas dan membentuk tim atau satuan tugas khusus yang
intensif untuk berkoordinasi di lapangan," ucap Dirjen Iwan dalam siaran
pers yang diterima oleh InfoPublik pada Senin (8/4/2024).
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Ahmad Yani
menyampaikan harapannya agar koordinasi ini dapat membantu karena akibat dari
gempa ini yang tergolong besar bagi masyarakat seperti rumah- rumah mengalami
kerusakan dan kondisi psikologis masyarakat lantaran belum pernah dirasakan
masyarakat sebelumnya.
"Gempa ini belum pernah terjadi di Bawean
tapi dari data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diketahui
bahwa sekitar 70 tahun lalu Pulau Bawean pernah mengalami kondisi gempa. Kami
merasa prihatin dan semoga dengan koordinasi ini dapat menemukan titik terang
dan dapat membantu percepatan rehabilitasi pasca gempa di Pulau Bawean,"
harapnya.
Laporan Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik
Achmad Washil Miftahul Rachman bahwa gempa susulan terjadi hingga 450 kali.
Adapun permasalahan utama yang dihadapi di Pulau Bawean ini antara lain kondisi bangunan hunian yang
mengalami rusak ringan, sedang dan rusak berat.

Komentar
Posting Komentar