Kado Indah Dari Jokowi Sebelum Lengser, Indonesia Bakal Kuasai 61% Saham Freeport
Kado Indah Dari Jokowi Sebelum
Lengser, Indonesia Bakal Kuasai 61% Saham Freeport
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berambisi untuk
menambah kepemilikan saham Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga
sebesar 61%. Kepala Negara menargetkan negosiasi dan payung hukum penambahan
persentase saham itu rampung sebelum selesainya masa jabatan.
Jokowi mengatakan target penambahan
kepemilikan saham RI di PTFI saat ini masih dalam tahap negosiasi. Menurutnya,
penyelesaian payung hukum dimaksud bisa mempercepat dan memperlancar negosiasi
dengan pihak Freeport-McMoran.
Adapun payung hukum itu yakni Peraturan
Pemerintah (PP) No.96/2021 tentang Pelaksanaan Kegiataan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batu Bara. Revisi PP itu berkaitan dengan perpanjangan izin usaha
pertambangan khusus (IUPK) untuk PTFI, yang akan berakhir 2041.
Aturan itu akan mewajibkan divestasi atau
pelepasan tambahan 10% saham PTFI dari Freeport-McMoran kepada pemerintah,
sekaligus mewajibkan perusahaan untuk membangun smelter tembaga baru di Fakfak,
Papua Barat.
Seperti diketahui, kini pemerintah melalui PT
Mineral Industri Indonesia atau MIND ID dan PT Indonesia Papua Metal dan
Mineral merupakan pemilik saham mayoritas PTFI sebesar 51,2%.
"[Penambahan kepemilikan saham 10%] masih
dalam proses negosiasi dan persiapan regulasinya, tetapi saya yakin angka itu
akan bisa kita dapatkan," ujarnya di Mercure Convention Center Jakarta
Utara, Kamis (28/3/2024).
Jokowi menargetkan agar negosiasi dan
penyelesaian payung hukum yakni revisi PP No.96/2021 itu rampung sebelum Juni
2024. Itu berarti empat bulan sebelum presiden dua periode itu akhirnya
meninggalkan jabatannya.
Seperti diketahui, pemerintahan periode kedua
Jokowi serta Kabinet Indonesia Maju dijadwalkan purnatugas pada Oktober 2024.
Oleh karena itu, mantan Wali Kota Solo itu pun menargetkan ambisinya bisa
terwujud pertengahan tahun ini.
"Tadi saya targetkan enggak sampai Juni
lah. Secepatnya. Kalau bisa secepatnya, tetapi paling lambat Juni,"
ucapnya.
Di sisi lain, Jokowi blak-blakan negosiasi
dengan pihak Freeport-McMoran berjalan alot. Dia menyebut perundingan dengan
pemilik saham PTFI lainnya itu memang sudah berlangsung lama.
Padahal, dalam kesempatan yang sama, Jokowi
sempat membanggakan bahwa kini Freeport bukan milik Amerika Serikat (AS) lagi
setelah kepemilikan saham pemerintah menjadi 51%.
"Ya namanya negosiasi kan sudah lama ini.
Bukan alot, alot banget," tuturnya.
Optimisme yang digaungkan Jokowi itu pun
diamini oleh para menterinya. Menteri ESDM Arifin Tasrif, pada kesempatan
terpisah, meyakini pemerintah bisa mengegolkan ambisi Jokowi di Freeport.
Arifin menyebut tenggat waktu yang disebut
Jokowi pada Juni 2024 harus terwujud, dan revisi PP ditargetkan rampung lebih
dini. "Ya harus Juni. Mudah-mudahan," katanya saat ditemui usai acara
buka bersama di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (28/3/2024).
Arifin menjelaskan, PP tersebut nantinya bakal
menjadi landasan hukum untuk banyak hal seperti divestasi saham 10% tambahan
untuk pemerintah Indonesia, pembangunan smelter dan mengakomodasi perpanjangan
kontrak PTFI hingga 2061 selepas masa akhir kontrak di 2041.
Mantan Duta Besar Jepang itu mengatakan
perpanjangan kontrak PTFI penting. Hal itu lantaran smelter baru PTFI
ditargetkan baru beroperasi penuh pada awal 2025.
"Iya, kan dia perlu mengeksplorasi.
Smelternya kan baru nih, kan kelar tahun ini. Tahun ini dia start awal 2025
baru bisa full. Ya masa 16 tahun mati," ucapnya.
Kendati demikian, Arifin mengatakan penambahan
10% saham Indonesia di PTFI nantinya tak akan membuat pemerintah mengeluarkan
uang sepeserpun.
Hal itu berbeda dengan saat Inalum menaikkan
kepemilikan sahamnya di PTFI menjadi 51% pada sekitar enam tahun lalu. Dilansir
dari situs resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Inalum pada 2018 merogoh
kocek hingga US$3,85 miliar. Namun, Arifin tak memerinci lebih lanjut mengenai
hal itu.
"Pemerintah enggak keluar duit
lagi," ucapnya.

Komentar
Posting Komentar